Jumat, 20 Maret 2015

Bali Nyepi di Jogja


Jogja turut bersuka ria dengan perayaan Tahun Baru Saka 1937. Hal ini tergambar dari  kemeriahan festival ogoh – ogoh pada hari Jum’at, 20 Maret 2015 di alun – alun milik Kraton Yogyakarta. Pada Jum’at sekitar pukul 16.00 WIB, sebelum arak – arakan ogoh – ogoh melewati sepanjang jalan di depan Benteng Kebudayaan Vredeburg, Bapak Presiden Jokowi Dodo keluar dari Gedung Agung yang berada persis di depan Benteng Kebudayaan Vredeburg. Kepala Presiden Republik Indonesia yang hampir menjabat selama setengah tahun ini keluar dengan mobil hitam yang di kawal ketat oleh kepolisian. Warga Yogyakarta dengan antusias hadir dan berkerumun untuk melihat secara langsung Bapak Presiden Jokowi Dodo sembari melambaikan tangan sebagai tanda selamat jalan. Bapak Jokowi juga melambaikan tangan diikuti senyum khas miliknya. Beberapa saat mobil berhenti, ternyata beliau turun dari mobilnya dan berjabat tangan dengan rakyatnya yang ada di Yogyakarta dan membagikan banyak kaos untuk warganya. Meski tidak semua semua warga kebagian kaos, mereka tak menampakkan wajah kecewa karena mereka dapat melihat orang nomor 1 di Indonesia itu secara langsung. Setelah Bapak Presiden dan para pengawalnya meninggalkan Gedung Agung, acara dilanjutkan dengan arak – arakan ogoh – ogoh melewati Jalan Jenderal A. Yani No. 6 Yogyakarta (depan Gedung Agung) ke arah utara menuju alun – alun Yogyakarta. Acara ini tidak hanya diikuti oleh umat Hindu yang ada di Yogyakarta, namun juga umat Islam dan banyak warga Yogyakarta turut ambil bagian dalam pembuatan ogoh – ogoh yang di arak dengan variasi bentuk yang berbeda. Tak ketinggalan, warga perwakilan Rumah Makan Ayam Goreng  dari Dusun Bendan, Tirtomartani, Kalasan juga turut membuat ogoh – ogoh berbentuk ayam yang ikut di arak dengan iringan gamelan. Ternyata tidak hanya warga Yogyakarta,namun juga warga Bali yang diundang untuk turut memeriahkan vestifal ini dengan pakaian adat mereka. Acara ini ditujukan untuk memperingati hari raya nyepi yang akan dilaksanakan oleh umat Hindu, esok hari pada Sabtu, 21 Maret 2015.



Nyepi berasal dari kata sepi (sunyi, senyap). Hari Raya Nyepi sebenarnya merupakan perayaan Tahun Baru Hindu berdasarkan penanggalan/kalender caka, yang dimulai sejak tahun 78 Masehi. Tidak seperti perayaan tahun baru Masehi, Tahun Baru Saka di Bali dimulai dengan menyepi. Tidak ada aktivitas seperti biasa. Semua kegiatan ditiadakan, termasuk pelayanan umum, seperti Bandar Udara Internasional pun tutup, namun tidak untuk rumah sakit.
Tujuan utama Hari Raya Nyepi adalah memohon ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa, untuk menyucikan Bhuana Alit (alam manusia/microcosmos) dan Bhuana Agung/macrocosmos (alam semesta). Sebelum Hari Raya Nyepi, terdapat beberapa rangkaian upacara yang dilakukan umat Hindu, khususnya di daerah Bali.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar